Mengurus Visa Bekerja (Atas Dasar Partnership) di Selandia Baru

Bismillahirrahmanirrahim,

Ini lah bagian yang paling paling ditungguu..

Sekilas saja ya update nya karena sebenarnya pun gw masih belum melalui tahapan ini. Baru ngumpulin berkas2 nya. Cuma mumpung ada waktu jadi gw tulis dulu, nanti insyallah di update kalau sudah di proses visanya.

Jadi, karena abang mau melanjutkan S3 di Wellington dengan lama studi 4 tahun maka gw sebagai istri nya berhak untuk mengajukan visa berkerja dengan masa visa sama dengan lama studi abang.

Untuk cek jenis visa yang cocok untuk kalian dan jika mau baca persyaratan detailnya tentu harus liat langsung ke web nya ya di https://www.immigration.govt.nz/new-zealand-visas/apply-for-a-visa . Soalnya masing-masing visa persyaratannya beda2. Sementara yang mau gw bahas disini cuma persyaratan untuk visa gw saja hehe.

Syarat-syarat nya untuk visa gw adalah:

  1. Gw mengisi form work visa untuk kategori “Partnership-Based Temporary Visa Application”. Atau lebih pastinya form nomor INZ 1198.
  2. Abang mengisi form “Partners Supporting Partnership-Based Temporary” untuk menyatakan men-support gw. Atau lebih pastinya adalah form nomor INZ 1146.
  3. Pas foto dengan latar belakang warna non solid (iya semacam warna2 beige begitu dan bukan warna putih seperti layaknya visa2 negara lain) ukuran 3,4 x 4,5 (2 lembar)
  4. Paspor Asli.
  5. Hasil rontgen dada dan hasil medcek. Untuk Medcek hanya bisa dilakukan di RS yang terafiliasi. Gw di RS Premier Jatinegara dengan biaya sebesar Rp. 2,8 Juta.
  6. Foto Copy Police Certificate / SKCK yang diterbitkan oleh Mabes Polri (liat postingan gw tentang mengurus SKCK On Line ya).
  7. Foto Copy Buku Nikah.
  8. Foto Copy Kartu Keluarga.
  9. Foto Copy Akta Lahir Anak.
  10. Surat dengan alamat yang sama.
  11. Bukti adanya aset bersama (optional) atau rekening bank bersama (optional).
  12. Visa Abang (jika sudah ada, dalam kasus gw kita mau ajukan bersama).
  13. Jumlah dana di rek tabungan sebesar NZ 4200.
  14. Letter of Guarantee (LOG) abang dari pemberi beasiswa yang menyatakan bahwa abang tertanggung oleh beasiswa dan ada juga allowance untuk keluarga.

Setelah itu baru kita submit aplikasi dan semua lampirannya ke VFS. Apakah VFS ituu? Jadi VFS adalah perusahaan yang ditunjuk secara resmi oleh kedutaan Selandia Baru untuk menerima pengajuan visa kita. Jadi ini bukan calo yak sodara sodari. Suka ngga suka, mau ngga mau, kalau mau daftar visa Selandia Baru ya harus lewat sinih. Tugas VFS ini adalah memeriksa kelengkapan administrasi dan menjamin keamanan dokumen, tetapi segala keputusan terhadap visa tetap dilakukan oleh Imigrasi di kedutaan Selandia Baru di Indonesia. Link tentang VFS untuk Selandia Baru di Indonesia ada di sini http://www.vfsglobal.com/newzealand/indonesia/

Biaya untuk pengajuan visa Selandia Baru adalah sebesar Rp. 3,1 juta, sementara biaya untuk VFS adalah sebesar Rp. 248,500. Jadi total sekitar Rp. 3,350,000. Dan waktu pemrosesan visa adalah sekitar 25 hari kerja.

Advertisements

Membuat SKCK dengan sistem SKCK On Line untuk pembuatan Visa tinggal atau Visa kerja di Luar Negeri

Lanjut lagi yaa ceritanya setelah cerita tentang mengurus E-Paspor, mumpung masih bertema Pelayanan Publik.

Jadi, salah satu persyaratan pembuatan visa untuk menetap atau berkerja di negara lain itu adalah harus membuat Police Certificate alias SKCK.

Dan dari hasil browsing2 sana sini ternyata SKCK untuk ke luar negeri itu harus SKCK yang diterbitkan oleh Mabes Polri (ngga bisa yang dari Polres, seperti layaknya SKCK kalau kita mau daftar kerja duluuuu).

Sakit perut lagi kan gw membayangkan “rantai pasok” nya. Mulai dari RT-RW-Kelurahan-Polres-Polda-Mabes. 6 tahap birokrasi sodara sodara. Bayangan calo pun mulai melambai lambai lagii. Bisa kalik ya kalau pakai calo selesai sekejap, ngga usah ribet2. Astagfirullah. Ampuun gustii, iman kok masih lemah amat yaak!

Tapi Allah kayanya sayang sama gw nya kebangetan deh, masih pada saat iseng2 browsing tentang pengurusan SKCK untuk visa kok ya tiba2 gw disasarkan pada berita tentang SKCK On Line! Eh, ada SKCK On Line? Maksudnya bagaimana ya?

Langsung menuju TKP gan di https://skck.polri.go.id/ . Ternyata SKCK On Line itu benar adanya. Cukup isi data2, upload dokumen2 pribadi yang dibutuhkan (ijazah, paspor, pas foto, dll).  Tidak perlu surat pengantar apapun apalagi sampe 6 tahap rantai pasok. Lalu setelah itu cetak bukti daftar untuk di bawa maksimal 3 hari kerja yang dihitung dari saat pendaftaran (artinya pas-pas in yaa waktu kita daftar dengan waktu untuk pengambilan SKCK ke Mabes nya).

Oh ya, kalau di sistemnya minta rumus sidik jari, dan kita belum ambil rumus sidik jari dikosongkan saja kolomnya. Nanti pada saat kita mau ambil SKCK nya ke mabes baru kita susulkan rumus sidik jarinya.

Pas hari H datang ke Mabes jangan lupa bawa persyaratan2 dokumennya plus tanda daftar kita. Persyaratan dokumennya bisa dilihat di web yang tadi.

Nah buat yang belum rekam sidik jari harus ke bagian INAFIS dulu ya. Lokasinya di Mabes juga, tetapi terpisah gedung dan terpisah jalan raya besar dari yang lokasi pengambilan SKCK. Kalau lokasi INAFIS letaknya yang dekat museum Polri, sementara untuk pengambilan SKCK letaknya yang ada patung gajah madanya (tapi pintu masuk lewat belakang yang dekat dengan kementerian PU). Lumayan lah olah raga jalan dari satu tempat ke tempat lainnya haha.

Oh ya usahakan juga datang pagi2, gw jam 8 sudah sampai di INAFIS. Di jam 8 itu, gw jadi orang pertama yang ambil rumus sidik jari jadi ngga ngantri sama sekali. Proses pengambilan sidik jari sekitar 15 menit. Lalu hasil rumus sidik jari itu harus difotokopi (yang asli buat kita), dan fotokopinya yang akan dilampirkan pada saat pengambilan SKCK.

Tempatnya fotokopi sebenarnya adanya di depan loket SKCK, tapi entah karena gw yang kepagian atau bagaimana itu tempat fotokopi belum buka. Alternatif tempat fotokopi adanya agak jauh di luar deket warung2 kaki lima depan PU (jalan sekitar 200 meter dari pintu keluar Mabes). Tapi kalau ngga mau fotokopi, boleh yang aslinya dikasihkan dan kita cukup menyimpan foto nya saja di HP.

Setelah lengkap semua baru ambil no antrian pengurusan SKCK, di jam 1/2 9 gw ternyata dapet antrian no 5. Serahkan semua dokumen dan tanda daftar. Lalu menunggu. Di standing banner memang ditulis lama pelayanan SKCK adalah “1 hari kerja / 2 jam”. Gw masih optimis kalau bisa lebih cepat dari itu. Kan gw antrian no.5! ya kaaan? Tapi ternyata 1 jam gw tunggu tu SKCK belum selesaaaai akhirnya gw tanya juga. Kata mbak2 nya “kan 2 jam mba, ada di pengumuman itu!”. Ah tapiii kalau bisa lebih cepat kenapa mesti tunggu sampai 2 jam. ya kaaan?

Tapi gw malas berdebat, ada SKCK On Line saja sudah untung. Untung juga kantor deket banget dari Mabes, jadi gw izin undur diri saja dan akan kembali lagi nanti siang sebelum jam istirahat.. (jangan datang pas jam istirahat yaa, karena mereka tutup pas jam istirahat!). Akhirnya pas siang kesana, ternyata kesabaran gw masih di uji. SKCK nya udah jadi tapi datanya ada yang salaah. Ampun gustii hahahhahaha. Cuma bisa ketawa saja lah, daripada kzl. Gw pun dengan baik2 minta datanya diperbaiki. Dia bilang oke, tapi mesti tunggu 2 jam lagiii hahahaha.

Akhirnya baru besok pagi nya gw ambil SKCK lagi. Dan alhamdulillah sudah benar semua, insyaallah. Lalu jangan lupa bayar biaya jasa nya ya sebesar Rp. 30 ribu. Resmi, ada tiket dengan nilai nominal yang tertera.

Demikian cerita cerita nya tentang pelayanan publik. Belum sempurna memang, tetapiii sudah jauh lebih baik. Alhamdulillah. Reformasi birokrasi semakin nyata. Ayo jangan lelah mencintai Indonesia. Ayo ambil bagian dalam membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Mengurus E-Paspor Di Kanim Jakarta Selatan tahun 2017

Tiga bulan menuju cita-cita, marilah kita kerjakan segala tetek bengek keperluan administrasi yang harus dilakukan. Yang paling penting tentunya adalah mengurus paspor.

Ngga tanggung tanggung, ngurus sekaligus 3 paspor; gw, abang, dan Lentera. Gw perpanjang paspor, abang juga perpanjang tapi ternyataaaa paspor dia udah expire dari tahun laluuuu (OMG!), dan kalau Lentera tentunya buat baru.

Sebenernyaaa kalau harus urusan dengan pelayanan publik macam ni, udah kebayang dong malesnya. Ngebayangin antriannya yang sangat ngga balita friendly tentunya sudah bikin sakit perut duluan, belum lagi kalau harus bolak balik karena kurang ini itu. Si abang bahkan sempet kepikiran untuk pakai calo saja supaya ngga ribet. Tapi gw nya kok merasa bersalah kalau pakai calo karena berasa kaya nyogok. Well, sebenernya lebih berat mikir biaya calonya sih hahaha. Karena gw pernah ditawarin biaya calo untuk pengurusan paspor sehari jadi itu sekitar 1 juta untuk paspor biasa 48 hal yang harga resminya 350 ribu. Padahal si abang kekeh mau nya bikin e-Paspor karena katanya bakal sering bolak balik ke luar negeri (aminin aja deh hahahha), nah berapa coba biaya calonya yaaa kaan belum lagi harus di kali 3 karena mau bikin untuk 3 paspor. Bisa bangkrut ane gan!

Akhirnya gw bertekad nyoba untuk urus sendiri tanpa calo, berbekal pengalaman tahun 2013 saat gw juga urus paspor sendiri. Dulu gw urus paspor di kanim Jakarta Timur (sesuai alamat gw) dan pakai sistem pendaftaran online. Gw datang sekitar jam 8 pagi dan baru selesai sekitar jam 3 siang. Krik krik krik.

Eh tapi dddongg, gw baru tau kalau ternyata sekarang sudah ngga bisa dipakai lagi tu sistem pendaftaran online. Katanya ada migrasi data di Imigrasi, dan belum tau kapan sistemnya bisa dipakai lagi. Kuciwaaa sangat lah sayaaa. Calo mana calooo, aku butuh kamuuu. hahahaha. Tapiii inget inget lagi, untuk tujuan baik harusnya dimulai dengan usaha yang baik pula. Akhirnya tetap coba urus sendiri. Mulai browsing2 pengurusan e-paspor jaman now.

Okee, ternyata sekarang ada sistem namanya “Layanan Antrian Paspor On Line” yang fungsinya adalah penjadwalan kedatangan ke kantor imigrasi. Ini ada aplikasi nya yang bisa di download di smartphone tetapi ada juga yang bisa diakses dari PC. Gw pakai yang diakses dari PC. Ini alamatnya https://antrian.imigrasi.go.id/  .

Setelah melakukan pendaftaran akun, gw mulai masukin data untuk ambil no antrian. Ternyata untuk 1 akun hanya bisa daftar untuk 2 nomor antriaan, lah padahal gw mau buat 3. Akhirnya bikin lagi akun baru dengan pakai email si abang, alhamdulillah bisa.

Terus gw pilih kanim deh. Tadinya mau pilih kanim Jakarta Timur karena sesuai KTP dan kalau nanti harus nunggu lama, Lentera bisa dititipin dulu ke rumah mertua karena rumah mertua lumayan deket dari cipinang. Tapi setelah dipikir2 lagi, Kanim Jakarta Timur itu jauh banget dari tempat tinggal kami yang sekarang. Dan jauh juga dari kantor gw, padahal niatnya kalau bisa cepat gw ngga usah ambil cuti (ya namanya juga usaha kaan). Akhirnya gw ngga jadi pilih Kanim Jakarta Timur, gw jadinya pilih Kanim Jakarta Selatan (iya ngga harus sesuai dengan KTP kok!). Alasannya adalah selain karena lokasinya yang dekat dan juga karena menurut Imigrasi sendiri (baca di berita2 online) Kanim Jakarta Selatan adalah “kanim percontohan” yang paling siap untuk implementasi sistem tersebut dari sisi kemampuan SDM dan lain lainnya.

Lalu gw memilih waktu untuk datang ke Kanim. Ternyata jika gw daftar hari ini, waktu yang tersedianya untuk datang ke Kanim sekitar 2 minggu ke depan! (Mangkanya jangan mepet2 ya gengs urus paspor nya). Jangan lupa pastikan juga bahwa di jadwal tersebut, kita tidak berhalangan hadir karena jadwal tidak bisa di re-schedule. Kalau mau re-schedule harus tunggu sampai no antrian itu gagal dulu dengan sendirinya (jadi bikin tambah lama kaan).

Setelah itu baru deh isi data-data. Isi datanya cukup Nama dan NIK saja sih. Nah kalau untuk anak2 gw sempet bingung isi NIK nya apaan ya karena ngga ada petunjuk pengisiannya. Awalnya isi NIK gw dan abang ternyata gagal karena ngga bisa ada 2 NIK yang sama pada saat yang berbarengan. Akhirnya gw isi aja tanggal lahir Lentera. Sukses ternyata.

Setelah itu selesai. Cek di bagian status, lalu print code nya untuk di bawa di hari H pada saat ke Kanim.

Pada saat ke kanim jangan lupa cek dokumen2 yang harus dibawa, sesuai dengan yang ada di website nya Imigrasi, yaitu: http://www.imigrasi.go.id/index.php/layanan-publik/paspor-biasa#persyaratan . Oh ya untuk anak2, maka orang tuanya perlu membuat surat kuasa bermeterai yang formulirnya bisa diperoleh di koperasi tempat fotokopi di maisng-masing Kanim. Kalau di Kanim Jaksel adanya di tempat fotokopi di lantai 2 (bareng dengan tempat tunggu antrian).

Di hari H, jadwal gw adalah untuk kedatangan jam 11 s.d. 12. Gw, abang, dan Lentera dateng lebih awal sekitar jam 1/2 10 an. Langsung scan code yang kita sudah print itu. Lalu dapet no antrian lagi. Dan eng ing eng untuk yang bawa anak balita atau manula (usia di atas 65 tahun) maka berhak mendapat antrian prioritas!! Jadi lah kita bertiga dapet antrian prioritas!! Baru aja selesai isi2 formulir surat kuasa yang baru kita beli di koperasi, eh ternyata antrian kita udah dipanggil.

Langsung verifikasi berkas, lalu foto, lalu selesai deh. Disuruh bayar di ATM atau Bank yang ada di lantai bawah Kanim. Gw bayarnya via ATM Mandiri ke multipayment penerimaan negara. Bayar sesuai dengan harga E-Paspor resmi Rp. 655.000,-. Dan paspor akan jadi dalam 3 hari kerja. Semua proses selesai dalam waktu 1 jam saja. Serius? Serius? Serius? Iya ini serius! hahahaha. Saking takjub nya gw sm reformasi birokrasi inih.

Tiga hari kemudian gw ambil paspor juga cuma 1/2 jam doang antri nya. Antriannya jelas dan ber-AC. Dan akhirnya paspor sudah di tangan. Alhamdulillah.

Ah Indonesiaa, dari segenap hiruk pikuk di medsos tv dll. Kadang sampai ngga percaya kalau Indonesia bisa menjadi lebih baik, tapi dengan kejadian nyata ini gw jadi lebih optimis. Ayooo jangan lelah mencintai Indonesia. Mari ambil bagian untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.

 

 

Menua

Ya iya sih siapa juga yang bilang 33 tahun itu masih muda.

Tapi terkadang gw suka ngga nyadar bahwa gw sudah setua itu. Biasanya baru tiba-tiba sadar kalau sudah setua itu karena melihat sekeliling gw yang menjadi memuda..

Orang -orang yang selama ini dalam hidup gw selalu gw persepsikan lebih tua dari gw mendadak kok jadi anak kecil kinyis kinyis. Misalnya mbak mbak di swalayan, bapak polisi yang ngatur lalu lintas, bapak tentara yang seharusnya gagah melindungi, sampai juga kemaren pas gw les bahasa ternyata dong ternyata gurunya kelahiran 88… Laaaahh itu mah se-adek gw daah.

No hard feeling sih for being that old, cuma jadi sering liat kaca sambil ngomong sendiri “Iya ya, gw sudah tua.” titik ngga pakai koma.

 

Small Things That Matters!

Baik Pemilu ataupun Pilkada selalu membuat gw jadi males. Males nonton TV, males buka fesbuk, dan males buka sosmed lainnya. Alasannya apalagi kalau bukan ngerasa risih buat baca dan denger komentar orang-orang yang suka nyinyir sedunia. Gw jadi berfikir kenapa ya orang kok gampang banget untuk bisa menghina dan memfitnah orang lain?

Jawabannya, mungkin, karena kita sering mengabaikan hati nurani kita. Jarang mendengarkan apalagi mengajak bicara, sehingga akhirnya mati rasa.

Sebagai pribadi dan juga sebagai Ibu, hal ini tentu membuat gw prihatin. Doa gw adalah semoga gw bisa mendidik Lentera untuk tumbuh menjadi anak sholehah yang mempunyai hati yang peka (Amiinn).

Untuk bisa mewujudkan itu, gw sadar bahwa gw dan Lentera perlu banyak melakukan latihan mengasah batin. Beberapa kebiasaan asah batin yang telah gw coba lakukan untuk Lentera adalah sebagai berikut:

  1.  Mendo’akan orang lain. Setiap habis sholat, gw selalu bertanya “apakah hari ini temannya ada yang tidak masuk sekolah karena sakit?”, jika ada maka kami akan berdoa bersama untuk temannya tersebut agar segera diberi kesembuhan. Demikian juga ketika mendengar suara ambulan dan pemadam kebakaran, gw pun akan mengajak Lentera berdoa supaya semuanya diberi kemudahan. Dan ketika hujan turun, kami berdoa supaya tidak ada banjir yang menyertai. Dengan latihan ini, gw mengharap Lentera bisa peka terhadap apa yang terjadi di lingkungan nya, jika belum bisa membantu minimal bisa mendoakannya.
  2. Menyapa setiap orang yang ditemui dan membiasakan menggunakan 3 kata ajaib “Maaf, Terimakasi, dan Tolong”. Lentera kami biasakan untuk berinteraksi dengan pak satpam, tukang kebun, tukang jualan, tukang parkir, tukang ojek, tukang penjaga karcis tol, babysitter temannya, dll. Sekedar menyapa “Selamat Pagi” atau mengucapkan “Terimakasih”. Kami ingin mengajarkan kepada Lentera bahwa semua orang adalah sama. Tidak boleh dibedakan berdasarkan profesinya. Kami selalu bilang bahwa semua orang senang kalau kita menyapa, dan itu adalah sedekah paling mudah untuk kami lakukan.
  3. Memberikan pengertian bahwa kebanggan gw pada Lentera adalah pada saat Lentera mampu melakukan kebaikan kepada orang lain. Jadi pada saat gw melihat Lentera mau berbagi dengan temannya, mau tertib mengantri, mau menolong adik kecil, mau menemani anak baru di sekolahnya, dll maka malamnya gw pasti akan menceritakan dengan bangga kepada siapapun (terutama Bapak dan Eyang nya). Bukan untuk pamer, tapi memang sengaja untuk membuat Lentera tau bahwa hal ini lah yang membuat Ibu nya bangga. Kepada guru nya juga sengaja gw titipkan pesan, jika Lentera melakukan suatu kebaikan atas inisiatifnya sendiri maka tolong gw dikasih tau supaya gw bisa memberikan reward pujian kepada Lentera sesampainya di rumah.

Gw juga sadar sih hal yang gw lakukan di atas memang belum ada apa2nya. Belum bisa membawa perubahan untuk lingkup RT apalagi RW dan kecamatan! Tapi gw percaya bahwa hal2 besar selalu dimulai dari hal2 kecil. Semoga gw dan Lentera istiqomah dalam menjalankan latihan ini sampai kami menuai hasil kelak di kemudian hari. Amiinn.

Review Perkembangan Lentera di Little Bee Daycare

Pada saat tulisan ini dibuat berarti udah hampir dua tahun Lentera sekolah di Little Bee Daycare.  Alhamdulillah sampai dengan saat ini masih bisa jaga komitmen untuk hidup tanpa nanny atau mba buat Lentera. Jangan tanya capeknya, tanya hasilnya! Hasilnyaaaaa….. adalaah sakit pinggang encok pegal linu hahahhahahahahhaha. Ya beginilaah pasangan jompo sok sibuk yang tetep mau sok idealis.

Kehidupan awal Lentera di daycare tentu saja derama. Bukan derama sih, tetapi hal yang wajar sebenarnya. Bayangkan saja anak satu tahun, tiba2 ditaruh dilingkungan yang asing buat dia. Maka yang terjadi adalah dia menangis sepanjang hari tanpa henti. It break my heart into pieces tentunya.

Tau gw yang ngga bakal tegaan menghadapi tangisan2 Lentera, maka tugas berat mengantar Lentera ke daycare di ambil alih oleh si abang. Sementara tugas gw adalah melakukan penjemputan Lentera di sore hari. Hampir hampir gw gagalkan ide tentang daycare ini. Ibu mana cobak yang tega denger anaknya nangis seharian ketika di telpon dan bahkan sampai pas di jemput di sore hari?? Tapi si abang bersikukuh meminta tambahan waktu, sabar katanya. Dia bilang ini adalah proses pembelajaran juga buat Lentera untuk bisa tumbuh mandiri dan bisa bersosialisasi.

Dan ternyata benar, tepat satu minggu, Lentera sudah bisa beradaptasi. Sudah tidak menangis lagi dan sudah bisa terlihat nyaman dengan para pengasuh disana. Alhamdulillah Wa Syukurillah. Sujud syukur gw. Oh ya di Little Bee ini tidak menganut prinsip dedicated nanny untuk satu anak ya. Jadi maksudnya si anak harus bisa deket dengan semua nanny. Menurut gw sih ini mendukung kepercayaan diri gw banget yaa sebagai ibuk yang kompetitip, ngga mau kaan saingan sama miss nya di sekolaah hahahahhahaha.

Sebulan dua bulan akhirnya Lentera lumayan menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dia jadi lebih cepat belajar segala sesuatunya, seperti berjalan dan berbicara. Semakin ke sini, Lentera semakin terlihat untuk tumbuh jadi anak yang mandiri; makan sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri, pakai sepatu sendiri, mengembalikan sepatu pada tempatnya, menaruh baju kotor pada ember, dll. Ahhh jadi guweh yang bangga sendiri.

Mungkin kami bisa berjodoh sejauh ini dengan Little bee karena adanya kesamaan visi pola pembelajaran antara orang tua dan daycare. Di Little bee, kita sama-sama satu suara perihal pembatasan penggunaan gadget dan televisi. Jadi disana memang tidak ada TV sehingga anak-anak di stimulasi untuk terus berkreasi.

Kegiatan pagi didahului dengan sarapan, circle time (senam), dan kegiatan sensori motorik kasar (melompat, belajar keseimbangan dengan jalan membawa baki atau menuang air ke botol,dll). Snack time.

Dilanjut dengan kegiatan sensori motorik halus seperti mengecat kerdus yang disulap jadi rumah, acara masak memasak, mewarnai, dll. Makan siang dan Tidur Siang.

Baru kemudian di sore hari diisi dengan kegiatan mendongeng.

Selain itu, setiap satu minggu sekali di little bee juga ada agenda untuk bermain ke taman, entah itu main sepeda bersama ataupun main lari-larian jadi anak ngga bosan berada di dalam rumah terus.

So far gw cukup puas sih dengan Little bee ini, walaupun yaa teteeupp siih minus minus nya masih ada juga. Misalnya kalau lagi ada wabah penyakit, wah bisa satu daycare gantian nih sakitnya. Sediiihhh. Padahal mah kalau urusan bersih2, little bee udah termasuk standar bersih banget lhoo!! Plus emang sebulan sekali mereka juga agendain gotong royong bersih2 masal sih, semua mainan anak dan karpet2 di cuci. Tapi yang namanya kuman dan virus bener2 seng ada lawan deeh. Kalau sudah begini, biasanya Lentera diungsikan dulu ke rumah nyokap gw sampai kondisi aman terkendali. Beruntung memang masih ada back up system yang memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.

Selain itu, hal yang masih kurang menurut gw adalah pembiasaan kegiatan agama. Ya memang karena dari awal Little Bee ini sudah dirancang untuk umum tanpa kekhususan pada suatu agama tertentu, maka tata cara yang diajarkan ya juga yang umum-umum. Gw pikir masalah ini belum menjadi masalah, sampai suatu saat Lentera bertanya “Ibu, apa bedanya Allah SWT dengan Tuhan?. Kenapa di sekolah berdoanya sama Tuhan tapi kalau di rumah berdoanya sama Allah SWT?”. Eng Ing Eng. Iyaaak kakaaaa, anak DUA tahun sudah bertanya begituuuuuuuuu. Akhirnya terpaksa gw berdialog dengan pengurusnya Little Bee untuk mencari solusi. Alhamdulillah, mereka sangat welcome dan  open mind dengan kegelisahan gw. Sekarang jadinya masing-masing anak berdoa menurut tata cara ajaran agamanya masing-masing. Semoga hal ini bisa membawa dampak baik untuk tumbuh kembang anak-anak, karena mereka pun jadi belajar bahwa ada berbeda beda agama tapi bisa hidup rukun. Cuma kata miss nya jadi bingung sih kalau ada anak hindu atau budha, siapa yang mau ngajarin doanya. *iya juga sik, pake kaset kalik ya.

Demikian sekilas dua kilas info semoga berguna untuk memantapkan hati para orang tua yang ingin menitipkan anaknya di daycare. Tapi balik lagi ya, masing-masing keluarga itu unik. Yang cocok untuk keluarga A, belum tentu cocok untuk keluarga B. Yang penting cari tau dulu kebutuhan apa yang mau dicapai baru kemudian cari solusinya. Oh ya sekedar saran, untuk waktu awal2 penitipan anak di daycare, mungkin ada baiknya orang tua nya ikutan cuti kali ya. Minimal 1 minggu lah. Menemani masa-masa adaptasi si anak. Jadi ngga kaya Lentera dulu, yang langsung blas orang tua nya ngilang. Hiks.